This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Sunday, June 3, 2012
Haruskah Perempuan Khitan (Khifadh)
Penulis : Ach. Nashichuddin
Penerbit : UIN-Maliki Press,
Malang
Tebal buku : vii + 131 halaman
Cetakan : I, Desember 2010
Peresensi : Naila Kurniasih *
Sudahkan
kamu (perempuan) dikhitan (khifadh)? Jawabannya ada di dalam diri orang tua
yang telah melahirkan dan membesarkan kita.
Pertanyaan yang timbul
dalam benak perempuan muslimah tentang khifadh (khitan perempuan) dalam
syari’at Islam. Apakah dia telah di khifadh atau belum, dan apakah dia
telah menjalankan syari’at khifad (khitan
perempuan) atau akan menentangnya. Karena selama ini yang kita ketahui khitan itu
hanya untuk laki-laki.
Bagi aktivis feminis, khifadh
(khitan perempuan) adalah tradisi yang melanggar hak-hak asasi manusia khususnya perempuan. Hal ini harus
dihentikan karena hanya dijadikan alat untuk mengontrol perempuan dan
menjadikannya obyek untuk mendapatkan kenikmatan bagi laki-laki. Lebih-lebih
secara medis, khitan perempuan memiliki dampak negatif yang membahayakan.
Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) dalam Majalah paras edisi Februari 2011 membagi
khitan perempuan dalam empat tipe: pertama, memotong seluruh bagian klitoris
(bagian mirip penis pada tubuh pria); kedua, memotong sebagian klitoris;
ketiga, menjahit atau menyempitkan mulut vagina (infibulasi); keempat, menindik/menggores
jaringan sekitar lubang vagina, atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina agar
terjadi pendarahan dengan tujuan memperkencang atau mempersempit vagina.
Menurut Rahman and Toubia
(2008); Konsekuensi medis yang disebabkan praktik ini antara lain: pertama,
terjadinya pendarahan yang berlebihan hingga bisa menimbulkan anemia bahkan
menimbulkan kematian; kedua, terjadinya infeksi pada alat kelamin hingga
menimbulkan rasa sakit ketika melakukan hubungan seksual, dan ketiga
menimbulkan rasa trauma yang mendalam.
Pendapat dari para ahli di
atas tentunya tidak akan sama dengan pendapat yang lainnya. Pendapat komisi
fatwa MUI justru berkeyakinan bahwa khitan perempuan merupakan syariat dan
pelarangannya bertentangan dengan ketentuan syari’ah karena khitan, baik bagi
laki-laki maupun perempuan, termasuk fitrah (aturan) dan syi’ar Islam. Khitan
terhadap perempuan sendiri, makrumah (suatu kemuliaan),
pelaksanaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan. Akan
tetapi komisi fatwa MUI juga tidak menafikkan adanya risiko yang digambarkan
dalam khitan perempuan disebabkan tatacara khitan yang tidak sesuai dan benar.
Tradisi
Khifadh
Secara historis ada
kesulitan untuk memastikan sejak kapan tradisi khifadh (khitan
perempuan) muncul. Menurut Asy Syinwani
(2003) menyebutkan “...praktik khitan merupakan praktik kuno yang dikenal
banyak kalangan sejak sejarah peradaban manusia muncul dan terus berlanjut
hingga agama Islam datang, mereka dikhitankan dan mengkhitankan anak-anak
mereka , baik laki-laki maupun perempuan. Walaupun demikian ada beberapa
ilmuwan yang mencoba memperkirakan sejak kapan tradisi khitan perempuan
berlangsung.
Menurut Herodotus yang
melaporkan bahwa tradisi khitan perempuan telah ada di masyarakat Mesir kuno
sejak abad kelima dengan bukti bahwa masyarakat Romawi kuno dan Arab kuno telah
mengadopsinya sebagai tradisi mereka. Anees (1989) mengemukakan bahwa khitan
perempuan merupakan tradisi kuno yang keberlangsungannya sampai sekarang
dipengaruhi oleh perpaduan antara mitologi dan kepercayaan .
Dalam Majalah paras edisi Februari
2011 juga
menjelaskan bahwa tradisi khitan sendiri populer di berbagai belahan
dunia sejak 4000SM. Suku kulit hitam di Australia, suku Gola, Flash (Yahudi
Habsyah), Banthu, Mosavi dan Nandi di Afrika; SUKU Utaheit di kepulauan Tonja,
Polenesia, kepulauan Fiji, Nandi di Fiika dan Kaledonca; suku Nehwatle, bangsa
Azteques dan masyarakat sekitar pulau Amazon di Amerika Selatan merupakan
suku-suku yang mempraktekkan khitan.
Berbicara tradisi memang
tidak akan selalu sama, itulah yang mengakibatkan perbedaan tradisi pada setiap
daerah. Sebuah tradisi dan budaya memang tidak akan mudah untuk dihilangkan begitu
saja. Hal ini
menyebabkan kenapa tradisi khifadh tidak bisa hilang dalam sebagian diri
masyarakat luas. Adanya manfaat ataupun resiko dalam khifadh (khitan
perempuan) akan tetap ada. Oleh karenanya buku yang dikarang oleh Nashichuddin ini menjelaskan bagaimana budaya khifadh ini dalam
kehidupan masyarakat pada masa sekarang khususnya sebuah desa si Pasuruan.
Keberlangsungan tradisi khifad memang
akan terus berlangsung. Meskipun keabsahannya masih diberdebatkan oleh beberapa
pihak dan ahli. Buku ini akan banyak memiliki manfaat apabila seluruh
perempuan khususnya aktivis gender dan feminis. Apabila para aktivis tersebut
membaca dan mengamalkan pengetahuannya tentang khitan
baik untuk laki-laki maupun perempuan sebagaimana mestinya. Semoga karya apik ini dapat memberikan
manfaat untuk masyarakat luas.
*) Naila Kurniasih
Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya UIN MALIKI Malang
Manusia Berbahasa dalam al-Qur’an
Judul
:
Proses Manusia Berbahasa; prespektif al-Qur’an dan Psikolinguistik
Penulis : Mamluatul Hasanah
Penerbit : UIN-Maliki Press, Malang
Tebal buku : 450 halaman
Cetakan
: I, Desember 2010
“Tidak
ada kata, tidak ada kalimat, tidak ada bahasa berarti tidak akan ada sebuah
komunikasi.”
Sebagaimana yang telah kita
ketahui, bahasa adalah alat komunikasi yang sangat penting bagi kehidupan.
Tanpa adanya bahasa kehidupan akan terasa hampa, karena dengan adanya
keanekaragaman bahasa menunjukkan warna-warni suatu kehidupan. Kita dapat
melihat sebagai contoh Negara Indonesia yang memiliki begitu banyak perbedaan
bahasa.
Menurut Ibn Jinni bahasa
adalah sistem bunyi yang digunakan sekelompok masyarakat untuk mengungkapkan tujuannya.
Namun yang dimaksud Ibn Jinni disini bukan sembarang bunyi yang dikeluarkan
oleh alat ucap manusia. Bahasa harus merupakan suatu simbol atau perlambangan.
dengan adanya bahasa kita dapat membunyikan apa yang telah kita fikirkan. Baik
sesuatu yang kita dengar maupun yang kita lihat.
Bahasa yang digunakan oleh
masyarakat biasanya memiliki ciri khas dan susunan bahasa tertentu. Bahasa
adalah sesuatu yang dapat berubah-ubah, karena bahasa selalu terikat kuat
dengan masyarakat pengguna bahasa tersebut. Hal ini menunjukkan mengapa bahasa
sangat penting untuk dijaga kelestariannya. Oleh karenanya jika bahasa tersebut
hilang dari suatu daerah, secara otomatis ciri khasnya juga akan hilang dan
menyebabkan ketidakeksisan daerah tersebut.
Berbicara merupakan
berbahasa, oleh karenanya kenapa disaat berbicara tidak sedikit orang yang
menggunakan tatanan atau ciri khas berbicaranya. Sebagaimana telah disebutkan
di atas bahwa tanpa bahasa kehidupan akan terasa hampa dan tidak berwarna. Ini
menunjukkan betapa besar kuasa Allah dalam penciptaan manusia, karena di Dunia
begitu banyak perbedaan bahasa yang menyebabkan manusia akan selalu
mempelajarinya.
Manusia hidup di dunia ini
dibekali dengan akal dan panca indra. Akal inilah yang membedakan manusia
dengan hewan dan makluk Tuhan yang lainnya. Meskipun makhluk yang lain juga
mempunyai panca indra yang sama dengan manusia, namun manusia tetap tidak bisa
disamakan dengan yang lainnya. Oleh karena itu manusia diciptakan dengan
beragam etnik dan bahasa agar mereka mempunyai ciri tertentu antara yang satu
dengan yang lainnya.
Perspektif
Qur’ani
Manusia
terlahir dengan ketidaktahuan dan ketidakfahaman tentang semua hal yang ada di
dunia ini. Namun, dengan adanya panca indra semua dapat diketahui dengan pasti
karena Tuhan menciptakan manusia dengan banyak hal yang harus diketahui oleh
manusia. Akan tetapi, yang sangat berperan penting adalah indra pendengaran,
karena dengan indra pendengaran itulah manusia akan mengenal semuanya.
Namun, jika manusia tidak
memiliki panca indra yang lengkap ia akan sedikit kesulitan untuk mempelajari
dan menerima semua informasi. Ada beberapa hal yang masih memungkinkan manusia
dalam penerimaan informasi meski ia tidak memiliki panca indra yang lenkap.
Sebagai contoh indra pendengaran yang sangat berperan penting dalam pengenalan
segala hal di Dunia ini.
Dengan akal manusia juga
memiliki kemampuan untuk mengambil kesimpulan dari berbagai hal yang dihasilkan
melalui pengamatan dan pengalaman. Namun, menurut al-Qur’an kemampuan manusia
untuk mengamati dan mengetahui itu terbatas, pemikiran manusia juga bisa
keliru, karena ada beberapa hal yang bisa menghalangi manusia untuk berpikir
secara benar.
Panca indra dan akal adalah
dua sarana yang diberikan Allah untuk membantu manusia dalam mengamati dan
mengetahui berbagai hal. Tetapi dua kelebihan ini saja belum cukup untuk
mengantarkan manusia untuk mengetahui segala sesuatu. Namun, dengan bahasa
telah memungkinkan manusia untuk memahami apa yang ada disekitarnya, dan
mengantarkan dia memiliki ilmu pengetahuan dan keahlian.
Nikmat Allah yang diberikan
kepada manusia memang tak terhingga, diantara nikmat itu yang sangat besar dan
dikhususkan untuk manusia adalah kemampuan untuk belajar bahasa, sehingga
manusia disebut sabagai “hayawan nathiq”. Mengapa Bahasa dianggap
sebagai suatu yang istimewa, karena bahasa merupakan sarana utama manusia untuk
berpikir. Hal ini merupakan sumber awal manusia memperoleh pemahaman dan ilmu
pengetahuan.
Sebagaimana penjelasan
al-Qur’an yang menyebutkan Allah telah mengajarkan bahasa mulai dari zaman Nabi
Adam. Seperti di dalam ayat al-Qur’an surat al-Baqarah:31-32. Yang menjelaskan
bahwa Allah telah mengajarkan nabi Adam suatu bahasa dengan cara menyebutkan
nama-nama benda yang melambangkan suatu simbol/lambang tertentu. Sehingga
nama-nama benda tersebut menjadi suatu bahasa setelah proses pengklasifikasian
dengan berfikirnya manusia.
Buku dengan judul “Proses
Manusia Berbahasa, prespektif al-Quran dan psikolinguistik” menguraikan secara gamblang bagaimana
al-Qur’an menjelaskan awal mula manusia berbahasa. Begitu penting manusia
memiliki sebuah bahasa, karena tanpa bahasa manusia tidak akan saling mengenal
satu sama lain.
Kemasan buku linguistik yang
dirangkai sangat apik ini, perlunya dinikmati oleh para pelajar, mahasiswa dan
seorang pengajar baik guru maupun dosen. Terutama yang mempunyai kaitan dengan
kebahasaan dan sastra. Umumnya untuk semua kalangan dan khususnya kalangan yang
sedang mempelajari dan mamahami kebahasaan secara islami dengan prespektif
al-Qur’an.
Untuk penulis dan penerbit
satu dari jutaan ribu karya ini semoga selalu diberi segudang bahasa agar dapat
menciptakan kembali karya-karya yang unik dan apik. Agar seluruh manusia di penjuru
dunia dapat menikmatinya.
*) Naila kurniasih
Mahasiswa fakultas humaniora dan
budaya UIN MALIKI Malang
Memuliakan Nabi dari Kelahirannya
Penulis : Ahmad
Muthohar
Penerbit : Pustaka Pesantren, LKiS-Yogyakarta
Tebal : x +
120 halaman
Cetakan :
I, Februari 2011
Peresensi : Naila Kurniasih
Sebagai umat Islam tentunya begitu dekat dengan istilah maulid
Nabi, karena hal ini merupakan satu dari sekian banyak peristiwa penting dalam
sejarah umat Islam. Dengan adanya maulid nabi umat Islam bisa
meneladani kebaikan-kebaikan dari kelahiran sang pemimpin umat beragama yang sekaligus
untuk seluruh zaman. Sebagian besar orang Islam memang memahami maulid nabi dengan
hari yang sangat agung, karena jika peristiwa itu tiada maka al uswah
hasanah yang dijadikan panutan dalam setiap kebaikan juga tiada.
Perayaan
maulid nabi sebagaimana kita ketahui belum ada yang bisa dengan
benar dan nyata membuktikan kapan perayaan maulid nabi pertama
kali dilakukan karena tidak adanya bukti yang membenarkannya. Namun, kita
masih bisa melihat dari beberapa pendapat untuk sekadar menambah pengetahuan
ilmu atau mendapatkan arahan dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita
tentang asal mula dirayakannya maulid Nabi. Sebagai contoh pendapat yang
dikemukakan Al-Maqrizy (seorang ahli sejarah Islam) dalam bukunya “Al-Khutath”
menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah
oleh Dinasti Fathimiyyun di Mesir.
Selama
ini banyak terjadi kontroversi tentang setuju dan tidaknya adanya
perayaan maulid nabi, hal ini terjadi dimana-mana tidak
terkecuali oleh umat Islam itu sendiri. Para umat Islam yang tidak menyetujui
adanya maulid nabi menyatakan bahwa maulid tersebut hanya
dilakukan dengan beberapa ritual dan acara yang tidak menambah keteladanan
kepada Nabi Muhammad. Maka dari itu mereka tidak menyetujuinya, bahkan apabila
ada yang mengindahkan ritual tersebut maka mereka nyatakan sebagai bid’ah
karena tidak terjadi di zaman Nabi.
Berbeda dengan umat Islam yang telah memahami perayaan maulid
sebagai bentuk kecintaannya kepada Nabi. Hal ini mereka percayai sebagai bentuk
perayaan yang bisa menambah kecintaan, keteladanan dan pelajaran tentang
Islam yang lebih luas dan mendalam. Tidak jarang pada perayaan maulid diadakan
pengajian-pengajian atau seminar tentang ilmu-ilmu keislaman, ini menunjukkan bahwa
kelahiran Nabi membuat dunia menjadi terang dan bahagia.
Perayaan maulid Nabi diselenggarakan dengan
beragam corak. Terdapat perbedaan tradisi antara satu daerah dengan daerah lain, dan terus berkembang dari masa ke masa sesuai dengan situasi
dan kondisi serta budaya kaum muslim di wilayah masing-masing. Di Indonesia
peringatan maulid Nabi juga diselenggarakan dengan meriah dan dipandang
sebagai salah satu hari besar Islam yang terbesar setelah Idul Fitri dan Idul
Adha. Perayaan
tersebut diadakan sebulan penuh, yaitu pada Rabiulawal, bahkan
sering kali pula lebih dari sebulan sehingga masih dirayakan pada Rabiulakhir.
Beberapa daerah dan corak perayaan di Indonesia yaitu di
Lombok, Nusa Tenggara Barat, terutama oleh para anggota Nahdlatul Wathan, maulid
nabi dirayakan dengan sangat meriah dan penuh dengan suasana spiritual. Di
Keraton Yogyakarta acara peringatan ini dikenal dengan Sekaten (asalnya: syahadatain),
yang diselenggarakan dalam waktu yang cukup panjang dan sangat kuat dipengaruhi
budaya lokal. Cara ini tentu berbeda dengan yang dilaksanakan di masjid pada
zaman lampau, yakni dengan membaca syair Arab yang bernama Maulid Syaraf
al-Anam, Konon.
Adapun di pesantren tradisional, perayaan maulid Nabi
dilaksanakan dengan acara membaca al-Barzanji (kitab berbahasa Arab yang berisi
syair pujian kepada Nabi Muhammad Saw), tahlil, dan doa bersama. Ada juga
peringatan yang diadakan pada tingkat desa, seperti yang diselenggarakan di
sebagian daerah terpencil di Sumatra Utara dan beberapa daerah lain.
Demikian pentingnya arti maulid nabi bagi
masyarakat muslim Indonesia, bahkan mereka menyebut bulan Rabiulawal dengan
bulan Mulud (Jawa) dan Mo'lot (Aceh), dan menyebut Rabiulakhir/Rabiul Tsani
dengan Bakda Mulud (Jawa: setelah Mulud) dan (Aceh: adik Mo'lot).
Beraneka warna dan cara masyarakat muslim dalam
menunjukkan apresiasi kecintaannya kepada Nabi Muhammad dalam bentuk maulid
nabi. Namun, perayaan ini
sering kering makna karena sekadar ritual keagamaan. Momen ini akan lebih
bermakna apabila disertai dengan hal-hal positif, serta mengikuti sikap dan
sifat tauladan Nabi Muhammad saw.
Nilai-nilai apik pada diri Nabi memang seharusnya
dapat diaktualisasikan umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara, sehingga tidak terjebak pada upacara ritualitas perayaan maulid
Nabi semata. Orang lain butuh akan contoh dari diri kita dan kita
pun butuh contoh dari orang lain. Oleh
karenanya kita harus senantiasa meneladani setiap tauladan dari Nabi.
Alhasil buah karya dari ustadz Ahmad Muthohar dengan
judul Maulid Nabi; Menggapai Keteladanan Rasulullah saw ini
mengupas tuntas tentang makna maulid nabi, kapan awal adanya perayaan
maulid serta corak-corak dari peringatan maulid yang ada di dunia Islam pada
umumnya dan di negara Indonesia pada khususnya. Dengan begitu maulid nabi akan
lebih dimengerti oleh masyarakat umum dan umat Islam secara lebih mendalam.
Tiada sanjungan yang lebih pantas dibanding do’a untuk
penulis yang masih memperdulikan budaya, keilmuan dan sejarah keislaman untuk
memajukan dan mencerdaskan penerus bangsa dan agama lewat jendela cakrawala
yang kini kian tergeser oleh kemajuan teknologi. Namun penulis masih tetap
gigih untuk memperjuangkannya. Semoga terus berkarya dan berhasil dalam setiap
cita yang disampaikan.
Pendidikan Islam Melahirkan Peradaban Unggul
![]() |
| Pendidikan Islam |
Judul : Reformulasi Pendidikan Islam;
Meretas Mindset Baru, Meraih Peradaban Unggul
Penulis : Mujtahid, M.Ag.
Penerbit : UIN-Maliki Press, Malang
Tebal buku : xii + 166 halaman
Cetakan
: I, 2011
Pepatah
mengatakan “Belajarlah sampai ke negeri cina”. Begitu pula Al-qur’an
mengatakan “Belajarlah mulai dari belaian sampai ke liang lahat”.
Istilah
tarbiyah diambil dari akar kata (rabba, yarubbu, tarbiyah) yang
artinya memperbaiki, menguasai, mengasuh menuntun, menjaga, mengatur dan
memelihara kelestarian maupun eksistensinya. Jadi pendidikan (tarbiyah)
merupakan usaha sadar untuk memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki, dan
mengatur kehidupan peserta didik, agar ia dapat survive lebih baik dalam
kehidupannya (halaman 3).
Membincangkan
pendidikan diseluruh penjuru dunia tidaklah akan ada habisnya. Hal ini
dikarenakan pendidikan telah menjadi pedoman dan landasan kehidupan manusia. Tanpa
pandidikan manusia bagaikan pohon yang tumbuh dengan baik dan subur namun tiada
bunga dan buah di rantingnya. Serupa dengan kehidupan manusia jika tanpa adanya
pendidikan sebagai arahan hidup lebih baik dan sempurna. Pendidikan menjadikan
hidup insan menjadi lebih berarti, karena dengan pendidikan akan banyak
pengetahuan yang dimiliki.
Dewasa
ini, Pendidikan Agama Islam sangat sering sekali diperbincangkan diberbagai
tempat dan keadaan. Meskipun Pendidikan Islam telah sering dikaji, diulas dan
diteliti oleh para ahli dan pakar, namun tetap saja belum pada titik terangnya.
Hal ini dikarenakan banyaknya pandangan atau prespektif yang berbeda diantara
para ahli dan pakar. Seringkali para ahli dan pakar kajian Pendidikan Islam menyebutkan
bahwa pendidikan tersebut menuai suatu keutuhan sempurna.
Penulis
memaparkan, Pendidikan Islam masih saja sering dikesankan sebagai aktivitas
pembelajaran yang hanya mengurusi masalah ritual, dogma dan ibadah mahdhah.
Sementara kajian bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, kesehatan, manajemen,
pertanian, kelautan dan seterusnya belum menjadi perhatian yang serius bagi
semua kalangan. Pemilihan dan pemisahan (dikotomi) ilmu dalam pratik
penyelenggaran Pendidikan Islam yang tak kunjung berakhir itu, pada gilirannya
akan menghambat kemajuan peradaban umat islam sendiri (halaman vi).
Akhir-akhir
ini para pakar dan ahli Pendidikan Islam telah berusaha keras untuk memperbaiki
dan membangun kembali Pendidikan Islam. Mereka membangun kembali semua yang
berhubungan dengan Pendidikan Islam baik dalam segi kurikulum, metode maupun
pembelajaran dengan disesuaikan pada wilayah, konsep, landasan dan
pengelolaannya. Karena sampai sekarang pendidikan islam dianggap belum bisa
melahirkan lulusan unggul dalam semua bidang.
Anggapan
dan pemikiran yang masih belum berkembang dalam fikiran para pendidik dan para
pakar Pendidikan Islam menjadi salah satu penghambat laju perkembangannya.
Pemikiran yang tidak melihat dunia luar sebagai pendukung dan pendamping dalam
pendidikan akan mengakibatkan beberapa hambatan. Karena tidak bisa dipungkiri
bahwa segala sesuatu yang berhubungan dalam kehidupan kita akan berpengaruh
pada kehidupan pendidikan baik Pendidikan Umum dan Pendidikan Islam.
Buku
yang dikemas dalam tujuh bab ini memiliki landasan yang spesifik pada
pembangunan Pendidikan Islam. Sehingga tujuan reformulasi Pendidikan Islam pada
dasarnya ingin melahirkan penerus bangsa dan agama yang beradab lebih mulia dan
unggul. Dengan adanya pemikiran yang lebih baik dan mengubah mindset
yang kolot tentang sebuah pendidikan maka akan tercapainya sebuah cita-cita
yang mulia.
Keinginan
untuk mejadi pengajar ilmu agama Islam telah mengakar dalam diri penulis,
sehingga kini bisa direalisasikan dengan menjadi dosen tetap di Fakultas
Tarbiyah UIN MALIKI Malang. Beliau selalu bercita-cita seperti dalam hadits
yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibn Abbas : “ jadilah kamu para pendidik
yang penyantun, ahli fiqh, dan berilmu pengetahuan. Dan dikatakan predikat
“rabbani” apabila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan,
dari sekecil-kecilnya sampai menuju pada yang tinggi”.
Buku
ini bertujuan mengajak para pendidik dan ahli pendidikan khususnya Pendidikan
Islam untuk mengubah dan membangun kembali tujuan dan proses dalam Pendidikan
Agama Islam. Penulis benar-benar menginginkan perubahan yang relevansi pada
pendidikan di Indonesia dengan mengedepankan agama untuk dijadikan sebagai
landasannya.
Selain
ajakan dan arahan dalam pembangunan Pendidikan Islam, mujtahid juga
mengungkapkan adanya TQM (Total Quality Management). Strategi manajemen yang
ditujukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses. Dengan adanya
TQM ini pendidikan islam akan lebih bertanggung jawab lebih optimal dan
totalitas tinggi.
Semoga
buku yang telah diterbitkan oleh UIN-Maliki Press dan ditulis oleh Mujtahid
bermanfaat bagi khalayak umum dan khususnya semua golongan yang berada pada
dunia pendidikan.
*)
Naila kurniasih
Mahasiswa UIN
MALIKI Malang, aktif di LKP2M (Lembaga Kajian, Penelitian Dan Pengembangan
Mahasiswa)
Wednesday, May 30, 2012
Puisiku
KAMU KEBANGGAANKU
Aku selalu ingin katakan
Apa yang tersimpan dalam hatiku
Namun, entah mengapa sinar terang terpancar dari bulan dan bintang
Tak jua membebaskan belenggu ini
Detak jantungku masih saja berdetak kencang
Meski ku tahu…
Kau tak lagi pedulikan aku
Bunga Carla lili selalu terapung di danau rimba
Meski dia berjejer ramai
Dia selalu merasa sendiri
Sepi…
Aku ingin menjadi mentari
Yang selalu menyinari hari-harimu
Aku ingin menjadi embun pagi yang menyejukkan hatimu
Dan aku…
Ingin menjadi malaikat
Yang akan selalu melindungimu
Hari-hari yang dulu ku lalui bersamamu
Akan selalu terkenang dalam lubuk hatiku
Aku bangga pernah mengenal dan memilikimu
Aku terkesan dengan keberadaanmu
Angin berembus menggerai rambutku
Kulihat nan jauh disana banyak bintang buatan
Dari kilauan lampu yang berjejer di ketinggian puncak
Membuat hatiku berdesir mengingatkanku akan indahnya kehadiranmu
Gemericik air mengalir menyadarkanku akan
Masa panjang yang tak pernah ku temui hulu dan hilirnya
Aku akan terus berusaha untuk menjalani hidup lebih baik lagi
Karna kutahu ada berkah dan nikmat yang menungguku jauh disana
Aku bangga pernah memilikimu
Dan harapku, aku bisa terus selalu membanggakanmu
11 Desember 2011
My Blog List
Powered by Blogger.
Tags
- Berita Acara (4)
- CerPen (2)
- ٌIssue (1)
- Media Pembelajaran (1)
- Puisi (2)
- Resensi (12)
- Tarjamah (1)


9:10 PM
Friendly Girl




