Sunday, June 3, 2012

Haruskah Perempuan Khitan (Khifadh)


Judul               : Realitas Tradisi Khifadh di Masyarakat
Penulis            : Ach. Nashichuddin
Penerbit          : UIN-Maliki Press, Malang
Tebal buku      : vii + 131 halaman
Cetakan          : I, Desember 2010
Peresensi         : Naila Kurniasih *

Sudahkan kamu (perempuan) dikhitan (khifadh)? Jawabannya ada di dalam diri orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan kita.
Pertanyaan yang timbul dalam benak perempuan muslimah tentang khifadh (khitan perempuan) dalam syari’at Islam. Apakah dia telah di khifadh atau belum, dan apakah dia telah menjalankan syari’at khifad (khitan perempuan) atau akan menentangnya. Karena selama ini yang kita ketahui khitan itu hanya untuk laki-laki.
Bagi aktivis feminis, khifadh (khitan perempuan) adalah tradisi yang melanggar hak-hak asasi manusia khususnya perempuan. Hal ini harus dihentikan karena hanya dijadikan alat untuk mengontrol perempuan dan menjadikannya obyek untuk mendapatkan kenikmatan bagi laki-laki. Lebih-lebih secara medis, khitan perempuan memiliki dampak negatif yang membahayakan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Majalah paras edisi Februari 2011 membagi khitan perempuan dalam empat tipe: pertama, memotong seluruh bagian klitoris (bagian mirip penis pada tubuh pria); kedua, memotong sebagian klitoris; ketiga, menjahit atau menyempitkan mulut vagina (infibulasi); keempat, menindik/menggores jaringan sekitar lubang vagina, atau memasukkan sesuatu ke dalam vagina agar terjadi pendarahan dengan tujuan memperkencang atau mempersempit vagina.
Menurut Rahman and Toubia (2008); Konsekuensi medis yang disebabkan praktik ini antara lain: pertama, terjadinya pendarahan yang berlebihan hingga bisa menimbulkan anemia bahkan menimbulkan kematian; kedua, terjadinya infeksi pada alat kelamin hingga menimbulkan rasa sakit ketika melakukan hubungan seksual, dan ketiga menimbulkan rasa trauma yang mendalam.
Pendapat dari para ahli di atas tentunya tidak akan sama dengan pendapat yang lainnya. Pendapat komisi fatwa MUI justru berkeyakinan bahwa khitan perempuan merupakan syariat dan pelarangannya bertentangan dengan ketentuan syari’ah karena khitan, baik bagi laki-laki maupun perempuan, termasuk fitrah (aturan) dan syi’ar Islam. Khitan terhadap perempuan sendiri, makrumah (suatu kemuliaan), pelaksanaannya sebagai salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan. Akan tetapi komisi fatwa MUI juga tidak menafikkan adanya risiko yang digambarkan dalam khitan perempuan disebabkan tatacara khitan yang tidak sesuai dan benar.
Tradisi Khifadh
Secara historis ada kesulitan untuk memastikan sejak kapan tradisi khifadh (khitan perempuan) muncul.  Menurut Asy Syinwani (2003) menyebutkan “...praktik khitan merupakan praktik kuno yang dikenal banyak kalangan sejak sejarah peradaban manusia muncul dan terus berlanjut hingga agama Islam datang, mereka dikhitankan dan mengkhitankan anak-anak mereka , baik laki-laki maupun perempuan. Walaupun demikian ada beberapa ilmuwan yang mencoba memperkirakan sejak kapan tradisi khitan perempuan berlangsung.
Menurut Herodotus yang melaporkan bahwa tradisi khitan perempuan telah ada di masyarakat Mesir kuno sejak abad kelima dengan bukti bahwa masyarakat Romawi kuno dan Arab kuno telah mengadopsinya sebagai tradisi mereka. Anees (1989) mengemukakan bahwa khitan perempuan merupakan tradisi kuno yang keberlangsungannya sampai sekarang dipengaruhi oleh perpaduan antara mitologi dan kepercayaan .
Dalam Majalah paras edisi Februari 2011 juga menjelaskan bahwa tradisi khitan sendiri populer di berbagai belahan dunia sejak 4000SM. Suku kulit hitam di Australia, suku Gola, Flash (Yahudi Habsyah), Banthu, Mosavi dan Nandi di Afrika; SUKU Utaheit di kepulauan Tonja, Polenesia, kepulauan Fiji, Nandi di Fiika dan Kaledonca; suku Nehwatle, bangsa Azteques dan masyarakat sekitar pulau Amazon di Amerika Selatan merupakan suku-suku yang mempraktekkan khitan.
Berbicara tradisi memang tidak akan selalu sama, itulah yang mengakibatkan perbedaan tradisi pada setiap daerah. Sebuah tradisi dan budaya memang tidak akan mudah untuk dihilangkan begitu saja. Hal ini menyebabkan kenapa tradisi khifadh tidak bisa hilang dalam sebagian diri masyarakat luas. Adanya manfaat ataupun resiko dalam khifadh (khitan perempuan) akan tetap ada. Oleh karenanya buku yang dikarang oleh  Nashichuddin ini menjelaskan  bagaimana budaya khifadh ini dalam kehidupan masyarakat pada masa sekarang khususnya sebuah desa si Pasuruan.
Keberlangsungan tradisi khifad memang akan terus berlangsung. Meskipun keabsahannya masih diberdebatkan oleh beberapa pihak dan ahli. Buku ini akan banyak memiliki manfaat apabila seluruh perempuan khususnya aktivis gender dan feminis. Apabila para aktivis tersebut membaca dan mengamalkan pengetahuannya tentang khitan baik untuk laki-laki maupun perempuan sebagaimana mestinya. Semoga karya apik ini dapat memberikan manfaat untuk masyarakat luas.
 
*) Naila Kurniasih
Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya UIN MALIKI Malang

Manusia Berbahasa dalam al-Qur’an


Judul               : Proses Manusia Berbahasa; prespektif al-Qur’an dan Psikolinguistik
Penulis            : Mamluatul Hasanah
Penerbit          : UIN-Maliki Press, Malang
Tebal buku      : 450 halaman
Cetakan          : I, Desember 2010

“Tidak ada kata, tidak ada kalimat, tidak ada bahasa berarti tidak akan ada sebuah komunikasi.”
Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahasa adalah alat komunikasi yang sangat penting bagi kehidupan. Tanpa adanya bahasa kehidupan akan terasa hampa, karena dengan adanya keanekaragaman bahasa menunjukkan warna-warni suatu kehidupan. Kita dapat melihat sebagai contoh Negara Indonesia yang memiliki begitu banyak perbedaan bahasa.
Menurut Ibn Jinni bahasa adalah sistem bunyi yang digunakan sekelompok masyarakat untuk mengungkapkan tujuannya. Namun yang dimaksud Ibn Jinni disini bukan sembarang bunyi yang dikeluarkan oleh alat ucap manusia. Bahasa harus merupakan suatu simbol atau perlambangan. dengan adanya bahasa kita dapat membunyikan apa yang telah kita fikirkan. Baik sesuatu yang kita dengar maupun yang kita lihat.
Bahasa yang digunakan oleh masyarakat biasanya memiliki ciri khas dan susunan bahasa tertentu. Bahasa adalah sesuatu yang dapat berubah-ubah, karena bahasa selalu terikat kuat dengan masyarakat pengguna bahasa tersebut. Hal ini menunjukkan mengapa bahasa sangat penting untuk dijaga kelestariannya. Oleh karenanya jika bahasa tersebut hilang dari suatu daerah, secara otomatis ciri khasnya juga akan hilang dan menyebabkan ketidakeksisan daerah tersebut.
Berbicara merupakan berbahasa, oleh karenanya kenapa disaat berbicara tidak sedikit orang yang menggunakan tatanan atau ciri khas berbicaranya. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa tanpa bahasa kehidupan akan terasa hampa dan tidak berwarna. Ini menunjukkan betapa besar kuasa Allah dalam penciptaan manusia, karena di Dunia begitu banyak perbedaan bahasa yang menyebabkan manusia akan selalu mempelajarinya.
Manusia hidup di dunia ini dibekali dengan akal dan panca indra. Akal inilah yang membedakan manusia dengan hewan dan makluk Tuhan yang lainnya. Meskipun makhluk yang lain juga mempunyai panca indra yang sama dengan manusia, namun manusia tetap tidak bisa disamakan dengan yang lainnya. Oleh karena itu manusia diciptakan dengan beragam etnik dan bahasa agar mereka mempunyai ciri tertentu antara yang satu dengan yang lainnya.

Perspektif Qur’ani

 Manusia terlahir dengan ketidaktahuan dan ketidakfahaman tentang semua hal yang ada di dunia ini. Namun, dengan adanya panca indra semua dapat diketahui dengan pasti karena Tuhan menciptakan manusia dengan banyak hal yang harus diketahui oleh manusia. Akan tetapi, yang sangat berperan penting adalah indra pendengaran, karena dengan indra pendengaran itulah manusia akan mengenal semuanya.
Namun, jika manusia tidak memiliki panca indra yang lengkap ia akan sedikit kesulitan untuk mempelajari dan menerima semua informasi. Ada beberapa hal yang masih memungkinkan manusia dalam penerimaan informasi meski ia tidak memiliki panca indra yang lenkap. Sebagai contoh indra pendengaran yang sangat berperan penting dalam pengenalan segala hal di Dunia ini.
Dengan akal manusia juga memiliki kemampuan untuk mengambil kesimpulan dari berbagai hal yang dihasilkan melalui pengamatan dan pengalaman. Namun, menurut al-Qur’an kemampuan manusia untuk mengamati dan mengetahui itu terbatas, pemikiran manusia juga bisa keliru, karena ada beberapa hal yang bisa menghalangi manusia untuk berpikir secara benar.
Panca indra dan akal adalah dua sarana yang diberikan Allah untuk membantu manusia dalam mengamati dan mengetahui berbagai hal. Tetapi dua kelebihan ini saja belum cukup untuk mengantarkan manusia untuk mengetahui segala sesuatu. Namun, dengan bahasa telah memungkinkan manusia untuk memahami apa yang ada disekitarnya, dan mengantarkan dia memiliki ilmu pengetahuan dan keahlian.
Nikmat Allah yang diberikan kepada manusia memang tak terhingga, diantara nikmat itu yang sangat besar dan dikhususkan untuk manusia adalah kemampuan untuk belajar bahasa, sehingga manusia disebut sabagai “hayawan nathiq”. Mengapa Bahasa dianggap sebagai suatu yang istimewa, karena bahasa merupakan sarana utama manusia untuk berpikir. Hal ini merupakan sumber awal manusia memperoleh pemahaman dan ilmu pengetahuan.
Sebagaimana penjelasan al-Qur’an yang menyebutkan Allah telah mengajarkan bahasa mulai dari zaman Nabi Adam. Seperti di dalam ayat al-Qur’an surat al-Baqarah:31-32. Yang menjelaskan bahwa Allah telah mengajarkan nabi Adam suatu bahasa dengan cara menyebutkan nama-nama benda yang melambangkan suatu simbol/lambang tertentu. Sehingga nama-nama benda tersebut menjadi suatu bahasa setelah proses pengklasifikasian dengan berfikirnya manusia.
Buku dengan judul “Proses Manusia Berbahasa, prespektif al-Quran dan psikolinguistik”  menguraikan secara gamblang bagaimana al-Qur’an menjelaskan awal mula manusia berbahasa. Begitu penting manusia memiliki sebuah bahasa, karena tanpa bahasa manusia tidak akan saling mengenal satu sama lain.
Kemasan buku linguistik yang dirangkai sangat apik ini, perlunya dinikmati oleh para pelajar, mahasiswa dan seorang pengajar baik guru maupun dosen. Terutama yang mempunyai kaitan dengan kebahasaan dan sastra. Umumnya untuk semua kalangan dan khususnya kalangan yang sedang mempelajari dan mamahami kebahasaan secara islami dengan prespektif al-Qur’an.
Untuk penulis dan penerbit satu dari jutaan ribu karya ini semoga selalu diberi segudang bahasa agar dapat menciptakan kembali karya-karya yang unik dan apik. Agar seluruh manusia di penjuru dunia dapat menikmatinya.


            *) Naila kurniasih
Mahasiswa fakultas humaniora dan budaya UIN MALIKI Malang

Memuliakan Nabi dari Kelahirannya


Judul Buku   : Maulid Nabi, Menggapai Keteladanan              Rasulullah saw
Penulis           : Ahmad Muthohar
Penerbit          : Pustaka Pesantren, LKiS-Yogyakarta
Tebal             : x + 120 halaman
Cetakan          : I, Februari 2011
Peresensi        : Naila Kurniasih

Sebagai umat Islam tentunya begitu dekat dengan istilah maulid Nabi, karena hal ini merupakan satu dari sekian banyak peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Dengan adanya maulid nabi umat Islam bisa meneladani kebaikan-kebaikan dari kelahiran sang pemimpin umat beragama yang sekaligus untuk seluruh zaman. Sebagian besar orang Islam memang memahami maulid nabi dengan hari yang sangat agung, karena jika peristiwa itu tiada maka al uswah hasanah yang dijadikan panutan dalam setiap kebaikan juga tiada.
Perayaan maulid nabi sebagaimana kita ketahui belum ada yang bisa dengan benar dan nyata membuktikan kapan perayaan maulid nabi pertama kali dilakukan karena tidak adanya bukti yang membenarkannya. Namun, kita masih bisa melihat dari beberapa pendapat untuk sekadar menambah pengetahuan ilmu atau mendapatkan arahan dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang asal mula dirayakannya maulid Nabi. Sebagai contoh pendapat yang dikemukakan Al-Maqrizy (seorang ahli sejarah Islam) dalam bukunya “Al-Khutath” menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyun di Mesir.
Selama ini banyak terjadi kontroversi tentang setuju dan tidaknya adanya perayaan maulid nabi, hal ini terjadi dimana-mana tidak terkecuali oleh umat Islam itu sendiri. Para umat Islam yang tidak menyetujui adanya maulid nabi menyatakan bahwa maulid tersebut hanya dilakukan dengan beberapa ritual dan acara yang tidak menambah keteladanan kepada Nabi Muhammad. Maka dari itu mereka tidak menyetujuinya, bahkan apabila ada yang mengindahkan ritual tersebut maka mereka nyatakan sebagai bid’ah karena tidak terjadi di zaman Nabi.
Berbeda dengan umat Islam yang telah memahami perayaan maulid sebagai bentuk kecintaannya kepada Nabi. Hal ini mereka percayai sebagai bentuk perayaan yang bisa menambah kecintaan, keteladanan dan pelajaran tentang Islam yang lebih luas dan mendalam. Tidak jarang pada perayaan maulid diadakan pengajian-pengajian atau seminar tentang ilmu-ilmu keislaman, ini menunjukkan bahwa kelahiran Nabi membuat dunia menjadi terang dan bahagia.
Perayaan maulid Nabi diselenggarakan dengan beragam corak. Terdapat perbedaan tradisi antara satu daerah dengan daerah lain, dan terus berkembang dari masa ke masa sesuai dengan situasi dan kondisi serta budaya kaum muslim di wilayah masing-masing. Di Indonesia peringatan maulid Nabi juga diselenggarakan dengan meriah dan dipandang sebagai salah satu hari besar Islam yang terbesar setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan tersebut diadakan sebulan penuh, yaitu pada Rabiulawal, bahkan sering kali pula lebih dari sebulan sehingga masih dirayakan pada Rabiulakhir.
Beberapa daerah dan corak perayaan di Indonesia yaitu di Lombok, Nusa Tenggara Barat, terutama oleh para anggota Nahdlatul Wathan, maulid nabi dirayakan dengan sangat meriah dan penuh dengan suasana spiritual. Di Keraton Yogyakarta acara peringatan ini dikenal dengan Sekaten (asalnya: syahadatain), yang diselenggarakan dalam waktu yang cukup panjang dan sangat kuat dipengaruhi budaya lokal. Cara ini tentu berbeda dengan yang dilaksanakan di masjid pada zaman lampau, yakni dengan membaca syair Arab yang bernama Maulid Syaraf al-Anam, Konon.
Adapun di pesantren tradisional, perayaan maulid Nabi dilaksanakan dengan acara membaca al-Barzanji (kitab berbahasa Arab yang berisi syair pujian kepada Nabi Muhammad Saw), tahlil, dan doa bersama. Ada juga peringatan yang diadakan pada tingkat desa, seperti yang diselenggarakan di sebagian daerah terpencil di Sumatra Utara dan beberapa daerah lain.
Demikian pentingnya arti maulid nabi bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan mereka menyebut bulan Rabiulawal dengan bulan Mulud (Jawa) dan Mo'lot (Aceh), dan menyebut Rabiulakhir/Rabiul Tsani dengan Bakda Mulud (Jawa: setelah Mulud) dan (Aceh: adik Mo'lot).
Beraneka warna dan cara masyarakat muslim dalam menunjukkan apresiasi kecintaannya kepada Nabi Muhammad dalam bentuk maulid nabi. Namun, perayaan ini sering kering makna karena sekadar ritual keagamaan. Momen ini akan lebih bermakna apabila disertai dengan hal-hal positif, serta mengikuti sikap dan sifat tauladan Nabi Muhammad saw.
Nilai-nilai apik pada diri Nabi memang seharusnya dapat diaktualisasikan umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga tidak terjebak pada upacara ritualitas perayaan maulid Nabi semata. Orang lain butuh akan contoh dari diri kita dan kita pun butuh contoh dari orang lain. Oleh karenanya kita harus senantiasa meneladani setiap tauladan dari Nabi.
Alhasil buah karya dari ustadz Ahmad Muthohar dengan judul Maulid Nabi; Menggapai Keteladanan Rasulullah saw ini mengupas tuntas tentang makna maulid nabi, kapan awal adanya perayaan maulid serta corak-corak dari peringatan maulid yang ada di dunia Islam pada umumnya dan di negara Indonesia pada khususnya. Dengan begitu maulid nabi akan lebih dimengerti oleh masyarakat umum dan umat Islam secara lebih mendalam.
Tiada sanjungan yang lebih pantas dibanding do’a untuk penulis yang masih memperdulikan budaya, keilmuan dan sejarah keislaman untuk memajukan dan mencerdaskan penerus bangsa dan agama lewat jendela cakrawala yang kini kian tergeser oleh kemajuan teknologi. Namun penulis masih tetap gigih untuk memperjuangkannya. Semoga terus berkarya dan berhasil dalam setiap cita yang disampaikan.

Pendidikan Islam Melahirkan Peradaban Unggul


Pendidikan Islam

                        Judul              : Reformulasi Pendidikan Islam; Meretas Mindset Baru, Meraih Peradaban Unggul 
Penulis           : Mujtahid, M.Ag.
Penerbit         : UIN-Maliki Press, Malang
Tebal buku    : xii + 166 halaman
Cetakan          : I, 2011

Pepatah mengatakan “Belajarlah sampai ke negeri cina”. Begitu pula Al-qur’an mengatakan “Belajarlah mulai dari belaian sampai ke liang lahat”.

Istilah tarbiyah diambil dari akar kata (rabba, yarubbu, tarbiyah) yang artinya memperbaiki, menguasai, mengasuh menuntun, menjaga, mengatur dan memelihara kelestarian maupun eksistensinya. Jadi pendidikan (tarbiyah) merupakan usaha sadar untuk memelihara, mengasuh, merawat, memperbaiki, dan mengatur kehidupan peserta didik, agar ia dapat survive lebih baik dalam kehidupannya (halaman 3).

Membincangkan pendidikan diseluruh penjuru dunia tidaklah akan ada habisnya. Hal ini dikarenakan pendidikan telah menjadi pedoman dan landasan kehidupan manusia. Tanpa pandidikan manusia bagaikan pohon yang tumbuh dengan baik dan subur namun tiada bunga dan buah di rantingnya. Serupa dengan kehidupan manusia jika tanpa adanya pendidikan sebagai arahan hidup lebih baik dan sempurna. Pendidikan menjadikan hidup insan menjadi lebih berarti, karena dengan pendidikan akan banyak pengetahuan yang dimiliki.

Dewasa ini, Pendidikan Agama Islam sangat sering sekali diperbincangkan diberbagai tempat dan keadaan. Meskipun Pendidikan Islam telah sering dikaji, diulas dan diteliti oleh para ahli dan pakar, namun tetap saja belum pada titik terangnya. Hal ini dikarenakan banyaknya pandangan atau prespektif yang berbeda diantara para ahli dan pakar. Seringkali para ahli dan pakar kajian Pendidikan Islam menyebutkan bahwa pendidikan tersebut menuai suatu keutuhan sempurna.

Penulis memaparkan, Pendidikan Islam masih saja sering dikesankan sebagai aktivitas pembelajaran yang hanya mengurusi masalah ritual, dogma dan ibadah mahdhah. Sementara kajian bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, kesehatan, manajemen, pertanian, kelautan dan seterusnya belum menjadi perhatian yang serius bagi semua kalangan. Pemilihan dan pemisahan (dikotomi) ilmu dalam pratik penyelenggaran Pendidikan Islam yang tak kunjung berakhir itu, pada gilirannya akan menghambat kemajuan peradaban umat islam sendiri (halaman vi).

Akhir-akhir ini para pakar dan ahli Pendidikan Islam telah berusaha keras untuk memperbaiki dan membangun kembali Pendidikan Islam. Mereka membangun kembali semua yang berhubungan dengan Pendidikan Islam baik dalam segi kurikulum, metode maupun pembelajaran dengan disesuaikan pada wilayah, konsep, landasan dan pengelolaannya. Karena sampai sekarang pendidikan islam dianggap belum bisa melahirkan lulusan unggul dalam semua bidang.

Anggapan dan pemikiran yang masih belum berkembang dalam fikiran para pendidik dan para pakar Pendidikan Islam menjadi salah satu penghambat laju perkembangannya. Pemikiran yang tidak melihat dunia luar sebagai pendukung dan pendamping dalam pendidikan akan mengakibatkan beberapa hambatan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa segala sesuatu yang berhubungan dalam kehidupan kita akan berpengaruh pada kehidupan pendidikan baik Pendidikan Umum dan Pendidikan Islam.

Buku yang dikemas dalam tujuh bab ini memiliki landasan yang spesifik pada pembangunan Pendidikan Islam. Sehingga tujuan reformulasi Pendidikan Islam pada dasarnya ingin melahirkan penerus bangsa dan agama yang beradab lebih mulia dan unggul. Dengan adanya pemikiran yang lebih baik dan mengubah mindset yang kolot tentang sebuah pendidikan maka akan tercapainya sebuah cita-cita yang mulia.

Keinginan untuk mejadi pengajar ilmu agama Islam telah mengakar dalam diri penulis, sehingga kini bisa direalisasikan dengan menjadi dosen tetap di Fakultas Tarbiyah UIN MALIKI Malang. Beliau selalu bercita-cita seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibn Abbas : “ jadilah kamu para pendidik yang penyantun, ahli fiqh, dan berilmu pengetahuan. Dan dikatakan predikat “rabbani” apabila seseorang telah mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan, dari sekecil-kecilnya sampai menuju pada yang tinggi”.

Buku ini bertujuan mengajak para pendidik dan ahli pendidikan khususnya Pendidikan Islam untuk mengubah dan membangun kembali tujuan dan proses dalam Pendidikan Agama Islam. Penulis benar-benar menginginkan perubahan yang relevansi pada pendidikan di Indonesia dengan mengedepankan agama untuk dijadikan sebagai landasannya.

Selain ajakan dan arahan dalam pembangunan Pendidikan Islam, mujtahid juga mengungkapkan adanya TQM (Total Quality Management). Strategi manajemen yang ditujukan untuk menanamkan kesadaran kualitas pada semua proses. Dengan adanya TQM ini pendidikan islam akan lebih bertanggung jawab lebih optimal dan totalitas tinggi.

Semoga buku yang telah diterbitkan oleh UIN-Maliki Press dan ditulis oleh Mujtahid bermanfaat bagi khalayak umum dan khususnya semua golongan yang berada pada dunia pendidikan.

*) Naila kurniasih
Mahasiswa UIN MALIKI Malang, aktif di LKP2M (Lembaga Kajian, Penelitian Dan Pengembangan Mahasiswa)

Wednesday, May 30, 2012

Puisiku


KAMU KEBANGGAANKU

Aku selalu ingin katakan
Apa yang tersimpan dalam hatiku
Namun, entah mengapa sinar terang terpancar dari bulan dan bintang
Tak jua membebaskan belenggu ini

Detak jantungku masih saja berdetak kencang
Meski ku tahu…
Kau tak lagi pedulikan aku

Bunga Carla lili selalu terapung di danau rimba
Meski dia berjejer ramai
Dia selalu merasa sendiri
Sepi…

Aku ingin menjadi mentari
Yang selalu menyinari hari-harimu
Aku ingin menjadi embun pagi yang menyejukkan hatimu
Dan aku…
Ingin menjadi malaikat
Yang akan selalu melindungimu
Hari-hari yang dulu ku lalui bersamamu
Akan selalu terkenang dalam lubuk hatiku
Aku bangga pernah mengenal dan memilikimu
Aku terkesan dengan keberadaanmu
Angin berembus menggerai rambutku
Kulihat nan jauh disana banyak bintang buatan
Dari kilauan lampu yang berjejer di ketinggian puncak
Membuat hatiku berdesir mengingatkanku akan indahnya kehadiranmu

Gemericik air mengalir menyadarkanku akan
 Masa panjang yang tak pernah ku temui hulu dan hilirnya
Aku akan terus berusaha untuk menjalani hidup lebih baik lagi
Karna kutahu ada berkah dan nikmat yang menungguku jauh disana

Aku bangga pernah memilikimu
Dan harapku, aku bisa terus selalu membanggakanmu

11 Desember 2011





My Blog List

Powered by Blogger.

Tags

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India