Sunday, June 3, 2012

Korelasi Umat Beragama


Judul               : Kerjasama Umat Beragama dalam al-Qur’an; perspektif hermeneutika 
farid esack
Penulis            : Dr. Achmad Khudori Soleh, M.Ag.
                        : Erik Sabti Rahmawati, M.Ag., M.A.
Penerbit          : UIN-Maliki Press, Malang
Tebal buku      : vii + 159 halaman
Cetakan          : I, 2011

Perdamaian-perdamaian 2x
Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai
Pusing-pusing ku memikinya

Bait di atas adalah bagian dari lagu salawat atau qasidah pada beberapa tahun lalu yang diperuntukkan untuk seluruh manusia penghuni bumi. Lagu ini bermaknakan tentang peperangan yang tiada habisnya. Perdamaian seharusnya milik seluruh individu manusia, namun kenyataannya masih saja terusik oleh kelompok ataupun golongan yang ingin menguasai daerah dari beberapa Negara. Memang tidak bisa dipungkiri apabila perdamaian terwujud dunia ini akan tenang. Oleh karenanya, beberapa bait dalam lagu “cinta perdamaian” merujuk seluruh umat beragama maupun tidak untuk tetap mempertahankan suasana damai yang indah.

Sebagaimana yang kita ketahui keanekaragaman bentuk agama dan budaya di Negara Indonesia sudah menjadi kesatuan yang ditetapkan oleh pemerintahan pusat.  Meski pada awalnya sebagian masyarakat tidak mau menerima agama-agama yang masuk di Indonesia secara lapang dada, namun pada akhirnya mereka mau menerima dan bahkan bisa berinteraksi dengan baik.

Penerimaan berbagai agama di Negara Indonesia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Karena adanya agama-agama baru tidak jarang menimbulkan konflik antar individu yang disebabkan ketidaksamaan pendapat dan olah fikir. Namun, pada akhirnya agama-agama tersebut juga dapat diterima meski dengan beberapa batasan atas semua tindakan yang mereka lakukan. Para penganutnya tidaklah cukup dengan hanya sebuah pembatasan, tetapi tidak jarang mereka diasingkan dan dijauhi karena dianggap berbeda.

Perbedaan seluruh sikap dan tindakan antar umat beragama adalah hal wajar. Karena setiap ajaran dan kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan olah fikir dan pribadi yang berbeda. Sekarang ini Indonesia sudah tidak seperti dulu lagi, antar umat beragama satu sama lain sudah bisa menerima perbedaan sebuah keberagaman. Akan tetapi, sebagaimana yang kita ketahui pula banyak diantara umat beragama akan tetap memiliki perbedaan olah fikir sehingga dapat mengakibatkan ketidak selarasan antar penganut. Dan alhasil, akan terjadilah peperangan kembali, bukan lagi antar umat beragama tetapi antar penganut satu agama.

Korelasi agama dalam Al-Qur’an
Secara normatif, tidak ada satupun agama yang menganjurkan pemeluknya untuk melakukan tindak kekerasan (violence), baik terhadap sesamanya yang berbeda pandangan (madzhab) maupun pada pengikut agama lain. Sebaliknya, agama justru memerintahkan manusia untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain (QS. Ali Imran,64; al-Hujurat, 13).
Namun, secara faktual-historis tidak jarang dijumpai tindak kekerasan yang dilakukan masyarakat agamis. Bahkan, ada kecenderungan bahwa kekerasan ini justru dilakukan oleh mereka yang bisa dikata mempunyai basik agama yang kuat dan tinggi. Seperti apa yang telah terjadi di beberapa daerah semisal; di Sulawesi Tengah, Maluku, dan Aceh. Begitu juga yang ada di luar negeri ini semisal; di Aljazair, Afganistan, Pakistan, India, Palestina Irlandia dll.
Menurut esack, pengakuan al-Qur’an tentang eksistensi agama lain tidak hanya ditunjukkan lewat semangat pluralisnya atau ayat-ayat “samar” yang dapat ditafsirkan kearah tersebut. Salah satu ayat yang secara tegas dan jelas menunjukkan pluralisme dan keanekaragaman agama adalah QS. al-Baqarah, 62 (disamping QS al-Maidah, 69). “Sungguh, orang-orang yang beriman (Islam), Yahudi, Sabi’in, Nasrani, dan siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, dan berbuat kebajikan, mereka akan mendapatkan balasan dari sisi Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka akan bersedih”. (QS. al-Baqarah, 62).
Persoalan kerjasama antar umat beragama merupakan pembahasan lebih lanjut dari pluralisme agama yang disampaikan esack. Menurutnya, adalah fakta yang riil bahwa di banyak daerah ditemui umat beragama yang berbeda dapat hidup secara damai. Antar umat beragama akan selalu hidup secara damai jika diantara mereka tidak ada kecemburuan sosial. Karena, selain perbedaan pendapat dalam beragama mereka juga mempunyai perbedaan dalam kehidupan sosialnya. Sehingga antar umat beragama akan tetap ada yang namanya konflik, dan hal ini tidak mudah untuk dihindari.
Dengan demikian, harapan untuk saling mengakui dan menerima yang ditunjukkan al-Qur’an sebagai cita-cita ideal, tantangan dan nilai yang mestinya harus dijunjung tinggi oleh penganut agama Ibrahimi (Yahudi, Kristen Dan Islam) berubah menjadi sikap saling menolak, eksklusivis, dan perseturuan. Akan tetapi al-Qur’an tetap mengajarkan persahabatan dan kerjasama di antara penganut umat beragama.
Apabila kita bayangkan betapa indah dan damainya kehidupan seluruh umat manusia jika hal itu terwujud. Kehidupan akan menjadi serasi dan selaras seperti apa yang diinginkan oleh seluruh lembaga dan umat manusia. Sehingga pemerintah juga akan senang akan hal itu, karena pemerintah maupun umat beragama yang cinta damai tidak kerepotan untuk memikirkan jalan keluarnya.
Buku karangan oleh dua sekawan yang dirangkap untuk membicarakan kerjasama antar umat beragama ini memanglah apik. Sehingga wajib dinikmati oleh seluruh penganut umat beragama yang ada di dunia. Selanjutnya para pembaca dan penikmat buku ini bisa mengamalkan apa yang telah menjadi pengetahuan bersama. Sehingga seluruh umat beragama, khususnya yang ada di Negara Indonesia dan umumnya adalah umat manusia akan hidup damai dan selaras. Amiiin  


*) Naila Kurniasih
Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Budaya UIN MALIKI Malang
Aktif di Lembaga Kajian, Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa (LKP2M)


0 comments:

My Blog List

Powered by Blogger.

Tags

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India