Judul
: KHAZANAH; Menelisik
Warisan Peradaban Islam dari Apotek hingga Komputer Analog
Penulis :
Heri Ruslan
Penerbit : Penerbit
Republika, Jakarta
Tebal buku : vi+294 halaman
Cetakan : I, 2011
ISBN : 978-979-1102-84-1
Waktu terus berjalan diatas
aktivitas penghuni bumi, udara dan air sekalipun. Hari kemarin disebut kenangan
(jika telah lampau maka disebut suatu sejarah), hari ini perjuangan dan hari
esok adalah harapan. Oleh karenanya manusia harus senantiasa melihat masa
kemarin yakni hari kenangan atau sejarah. Agar bisa memperbaiki hari esok
dengan menjadi lebih baik.
Kenapa kita senantiasa harus melihat
sejarah?, karena hari esok bisa terlaksana dengan baik apabila kita mau
memeriksa kejadian dan peristiwa yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangan
dari hari kemarin. Itulah kenapa kita harus melihat sejarah yang telah terjadi
dihari kemarin, agar kesalahan atau keburukan dapat diminimalisir sedemikian
rupa. Sehingga harapan untuk hari selanjutnya dapat terwujud lebih baik.
Untuk itu kita harus kembali
mempelajari sebuah sejarah agar pemahaman dalam menimba ilmu tidak
diselewengkan dengan sebuah pembodohan dan penipuan karena ketiadaan sebuah
bukti nyata. Oleh karenanya alangkah baiknya jika kita menelisik
warisan-warisan peradaban Islam yang telah dilupakan yang telah lama terkubur
bersama sang waktu. Bahkan tidak sedikit yang diakui sebagai warisan peradaban
Barat, hal itu karena ketidaktahuan kita akan sejarah peradabannya sendiri. Sebagai
manusia selayaknya kita mengenang para pewaris yang telah berjasa pada
kelangsungan hidup dari penemuan-penemuannya. Dibawah ini adalah sebagian kecil
warisan dari peradaban Islam.
Apotek, Karya
Islam
Peradaban islam dikenal sebagai
perintis dalam bidang farmasi. Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam sudah
berhasil menguasai riset ilmiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek
dari obat-obatan sederhana dann campuran. Selain menguasai bidang farmasi,
masyarakat Muslimpun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki apotek
atau toko obat(halaman:25).
Jauh sebelum peradaban Barat
mengenal apotek, masyarakat Islam lebih dulu menguasainya. Sejarah mencatat,
apoteker pertama di Eropa baru muncul pada akhir abad ke-14, bernama Geoffrey
Chaucher (1342-1400). Ia dikenal sebagai apoteker asal Inggris. Sedangkan,
Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya in the history of pharmacy during the
Middle Ages, mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad
pada 754 M. Dan saat itu, Baghdad sudah menjadi ibukota kekhalifahan Abbasiyah.
Oleh karena itu ia menyimpulkan bahwa yang membangun Apotek pertama adalah para
Muslim.
Di era kejayaan islam, toko-toko
obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak
cuma hadir di kota Baghdad (kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah)
namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai
mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk
meracik, menyimpan serta menjaga aneka obat-obatan (halaman:26).
Banyak pula diantara para ahli
farmasi yang tercatat sebagai dokter pertama dan mencetuskan berbagai teori
penyakit serta obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Salah satu
diantara sekian banyak dokter itu adalah Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M), telah
mencetuskan pharmacopoedi. Selain itu, ada pula dokter dan ahli farmasi Muslim
seperti Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis (936-1013 M) tercatat sebagai
saintis perintis dalam bidang distiliasi dan sublimasi.
Komputer Analog Era Keemasan Islam
Ketika peradaban islam menggenggam
dunia, para insinyur Muslim ternyata sudah menguasai teknologi komputer. Meski
komputer saat itu bukanlah komputer yang seperti kita pakai saat ini. Menurut
Wikipedia, komputer analog yang ada digunakan untuk menggambarkan alat
penghitung. Disamping itu, komputer analog juga sering digunakan sebagai
pengolah data apapun yang ada pada waktu itu.
Komputer analog Antikythera
Mechanism merupakan komputer analog pertama yang digunakan peradaban
manusia. Alat itu dikembangkan oleh peradaban Yunani sejak 100 tahun SM. Akan
tetapi pada era kekhalifahan , teknologi computer analog dikuasai dan
dikembangkan para insinyur Muslim. Berbagai alat yang menggunakan prinsip dasar
komputer analog telah ditemukan oleh ilmuwan Islam yang digunakan dalam
kegiatan ilmiah. Walhasil, para astronomi berhasil menemukan beragam jenis
astrolabe.
Setelah ditemukannya alat-alat
dengan menggunakan prinsip komputer analog semakin berkembang dan semarak
kuantitasnya. Maka pada abad ke-15 M, penemuan peralatan dengan menggunakan
prinsip komputer analog semakin berkembang pesat. Karena semakin canggihnya
alat-alat yang dihasilkan.
Semua penemuan itu membuktikan bahwa
peradaban Islam menguasai teknologi di era kejayaannya. Padahal, pada masa itu
masyarakat Barat berada dalam keterbelakangan dan kebodohan. Sehingga tidak
dapat dipungkiri lagi jika sains dan teknologi merupakan kontribusi paling
monumental yang diberikan peradaban Islam kepada dunia modern.
Dan berkat sains yang berkembang di
dunia Islam, peradaban Barat pun bisa keluar dari cengkraman kebodohan.
Berkembangnya ilmu pengetahuan serta teknologi di dunia Islam telah membuat
para pemikir Barat berdecak kagum. “pencapaian terpenting di abad pertengahan adalah
terciptanya semangat eksperimental yang dikembangkan peradaban Muslim”, tutur
Bapak Sejarah Sains, George Sarton dalam bukunya the introduction to the
History of Science.
Demikianlah sumbangan yang diberikan
oleh peradaban islam kepada anak cucunya agar menikmati hidup lebih mudah.
Dengan berkembangnya teknologi mutakhir seperti yang kita gunakan dan rasakan
manfaatnya saat ini. Oleh karenya wajib kita tanamkan rasa kebanggaan kepada
para ilmuwan peradaban Islam untuk apa yang telah diberikannya hingga saat ini.
Teknologi Dalam
Peradaban Islam
Peradaban islam sangat berbeda
dengan Yunani, Romawi dan Bizantium dalam memandang teknologi. Para cendekiawan
Muslim di era kekhalifahan menganggap teknologi sebagai sebuah cabang ilmu
pengetahuan yang sah. Fakta itu terungkap berdasarkan pengamatan para sejarawan
sains Barat di era modern terhadap sejarah sains di Abad Pertengahan
(halaman:121).
Ilmuwan Muslim tidak hanya
memperhatikan ilmu teknologi yang sedang berkembang. Namun, semua jenis ilmu
pengetahuan praktis dengan mengklasifikasikan ilmu-ilmu terapan dan subyek
serta teori yang ada. Dari era keemasan Islam, para cendekiawan Muslim telah
mengelompokkan ilmu-ilmu yang bersifat teknologis, teoritis, praktis dan ilmu
lainnya secara runtun dan apik.
Salah satu sumbangan di bidang
teknik sipil para cendekiawan Muslim di era kekhalifahan. Yakni para insinyur
Muslim juga sudah mampu membangun bendungan pengatur air diversion dam.
Pencapaian lainnya yang berhasil ditorehkan insinyur Islam dalam bidang teknik
sipil adalah pembangunan penerangan jalanan umum. Lampu penerangan jalan umum
pertama kali dibangun oleh kekhalifahan Islam, khususnya di Cordoba.
Selain dikenal bertabur cahaya di
waktu malam, kota-kota peradaban Islam pun dikenal sangat bersih. Ternyata, pada
masa itu para insinyur Muslim sudah mampu menciptakan sarana pengumpul sampah,
berupa container. Sesuatu yang belum pernah ada dalam peradaban manusia
sebelumnya.
Pada saat itu seorang teknisi ilmu
pengetahuan teknologi disebut rekayasawan (engineer). Dan para penguasa dan
masyarakat di zaman kekhalifahan Islam menempatkan para rekayasawan dalam
posisi tinggi dan terhormat. Hal ini sangat bertolak belakang dengan keadaan
pada zaman modern saat ini. Dimana posisi dan kehormatan hanya diberikan pada penguasa
kekayaan, sedangkan untuk cendekiawan dan rekayasawan terkadang justru sering
tiidak diakui keberadaannya.
Sangat disayangkan sekali apabila
para cendekiawan Muslim yang telah banyak memberikan sumbangan ilmu pengetahuan
khususnya di bidang teknologi kita lupakan. Segala sesuatu yang diberikan para
cendekiawan Muslim dari segala jenis ilmu teknik atu ilmu-ilmu yang lain
sangatlah patut mendapat sebuah penghargaan. Setidaknya mereka wajib kita
banggakan keberadaannya meski hanya menjadi sebuah sejarah peradaban.
Dewasa ini, apa yang terjadi di
Negara Indonesia tidak lain adalah kurangnya rasa bangga dan rendahnya
penghargaan terhadap karya hasil buah tangan anak bangsa. Oleh karenanya mereka
para rekayasawan seperti pada zaman peradaban Islam terdahulu memilih untuk
mencari tempat nyaman yang bisa melindungi serta menghargai cipta karya mereka.
Bukankah yang terjadi justru membuang kesempatan pada Negara Indonesia sebagai
penerus peradaban khususnya peradaban Islam karena sebagian besar penduduknya
beragama Islam.
Teknologi saat ini sudah tidak lagi
susah untuk dicari dan di dapatkan, karena perkembangan teknologi yang sangat
pesat. Oleh karena itu alangkah indahnya jika manusia lebih bisa menghargai apa
yang sudah ada di dunia saat ini. Dengan demikian apa yang telah disumbangkan
para cendekiawan bisa terus manusia nikmat sampai pada penerus-penerus bangsa
dan dunia nantinya. Dengan catatan tidak ada niatan untuk merusak dan
menghancurkan dunia ini justru dengan teknologi itu sendiri.
Sumbangan Islam
untuk Dunia Maritim
Pada era kekhalifahan, dunia
menguasai berbagai sector seperti, ilmu pengetahuan, politik militer, serta
ekonomi dan perdagangan. Tak heran jika dunia islam mampu menguasai wilayah
yang terbentang begitu luas, meliputi benua Asia, Afrika dan Eropa.
Kekhalifahan Islam dipandang telah memberi kontribusi yang signifikan dalam
terjadinya proses globalisasi di era itu.
Dengan ilmu pengetahuan serta
kekuatan ekonomi yang dikuasainya, dunia Islam mampu membebaskan begitu banyak
wilayah dari keterisolasian. Para penjelajah, pelaut, sarjana, saudagar serta
pelancong Muslim telah berjasa menghubungkan dan membuka wilayah yang
terisolasi itu dengan dunia islam(halaman:137).
Teknologi navigasi adalah alat yang
digunakan untuk menentukan arah di atas permukaan bumi. Dengan berkembangnya
teknologi pada era kekhalifan sebelumnya telah memberikan kemudahan pada
cendekiawan Muslim untuk memperluas pengetahuan dengan pergi ke tempat-tempat
yang berbeda. Dan dengan teknologi navigasi pula banyak menghasilkan hal-hal
baru untuk dikembangkan lagi selanjutnya. Salah satu teknologi navigasi yang
paling penting yang dihasilkan peradaban islam adalah kompas magnetik.
Teknologi navigasi berkembang pesat
di era kekhalifahan Islam. Peradaban islam lewat teknologi navigasi. Berbekal
pengetahuan itu, para geografer dan para navigator muslim mengembangkan sendiri
teknologi navigasinya. Pengembangan navigasi dilakukan dilakukan para
penjelajah Muslim perintis. Merekalah yang berjasa meletakkan dasar penetapan
lokasi sebuah tempat.
Selain teknologi navigasi di atas,
masih banyak lagi teknologi baru yang tercipta dengan dasar teknologi navigasi.
Demikianlah peradaban Islam yang tiada henti terus memberikan kontribusu
terhadap dunia teknologi yang ada pada saat itu. Sehingga saat ini kitapun bisa
menikmati kontribusi yang telah diberikan oleh para cendekiawan muslim
sebagaimana yang kita ketahui selama ini.
Sastra Dalam
Peradaban Islam
Selain di bidan teknologi, peradaban
Islam juga memberikan kontribusi yang besar dalam dunia sastra. Sastra di era
kekhalifahan sangat dihargai dan diagungkan, berbeda pada era modern ini yang
sebagian besar orang tidak mengakui dan menghargai keberadaan sastra. Karena
dianggap kurang pentingnya sebuah kekurang jelasan dari pemaknaan tulisan dan
tersingkir dengan karya ilmiah yang justru banyak penulisnya sendiri kurang
memahaminya disbanding dengan sastra.
Sastra sangat dibutuhkan dalam
kehidupan manusia, demikian posisi yang dimilikinya dalam peradaban Islam
sangatlah penting. Pada zaman modern seperti saat ini contohnya dengan sastra
kita dapat mengutarakan, mengungkapkan, serta menjelaskan sesuatu yang awalnya
sulit kita sampaikan menjadi sangat elegan. Dengan sastra pulalah terkadang
seseorang dapat bertahan dalam semua kondisi meski belum ada kesesuaian. Sastra
mengajarkan kita untuk lebih melihat pada sebuah kebenaran, mengesampingkan
sebuah ketidakpastian dan sebuah ungkapkan yang apa adanya.
Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa
sastra Arab berkembang mulai adanya Islam di kota Arab. Namun sejatinya sastra
Arab mulai berkembang sejak abad ke-6 M, yakni ketika masyarakat Arab masih
berada dalam peradaban Jahiliyah. Akan tetapi, karya sastra tertulis pada era
itu pertumbuhannya belum begitu banyak. Kemudian peradaban berganti menjadi
peradaban Islam dan mengubah sastra menjadi lebih baik.
Sastra Arab memasuki babak baru
sejak agama Islam diturunkan di Jazirah Arab. Sebagaimana kita ketahui pula,
al-Qur’an sebagai kitab suci agama Islam diturunkan dalam bahasa Arab dengan
susunan kalimat dan keindahan kata tiada tertandingi. Dan kitab suci umat Islam
itu telah memberi pengaruh terhadap bahasa dan sasta Arab. Namun, sebagian
orang tidak mau menyebut al-Qur’an dengan karya sastra karena merupakan
firman-firman Allah yang tidak bisa dibuat oleh manusia.
Warisan yang ditinggalkan peradaban
Islam memang sangat perlu untuk diteliti dan di kembangkan keberadaannya. Agar peradaban
manusia selanjutnya mengerti dan memahami dari mana asal warisan-warisan itu
hidup untuk pertama kalinya. Dengan hadirnya buku ini diharapkan dapat membuka
jendela penerang baru untuk peradaban selanjutnya. Dalam buku khazanah ini
banyak mengungkapkan awal munculnya sebuah ilmu pengetahuan yang dijadikan
sebuah prinsip baru untuk kemunculan ilmu pengetahuan lainnya.
Buku yang dirangkai dengan apik ini
pentingnya dimiliki oleh semua kalangan. Agar pemahaman terhadap sebuah ilmu
pengetahuan, teknologi, hasil karya tidak keliru lagi. Dan warisan yang murni
terjaga dengan semestinya, dengan tidak ada pengalihan hak cipta dan dari hasil
penemuan. Meskipun perkembangan yang ada mengungkapkan adanya ilmu dan temuan
baru dari kalangan ilmuwan Barat sejatinya tidak terlepas dari dasar pemikiran
ilmuwan Muslim.


7:25 AM
Friendly Girl

Posted in:
0 comments:
Post a Comment