Sunday, June 3, 2012

Memuliakan Nabi dari Kelahirannya


Judul Buku   : Maulid Nabi, Menggapai Keteladanan              Rasulullah saw
Penulis           : Ahmad Muthohar
Penerbit          : Pustaka Pesantren, LKiS-Yogyakarta
Tebal             : x + 120 halaman
Cetakan          : I, Februari 2011
Peresensi        : Naila Kurniasih

Sebagai umat Islam tentunya begitu dekat dengan istilah maulid Nabi, karena hal ini merupakan satu dari sekian banyak peristiwa penting dalam sejarah umat Islam. Dengan adanya maulid nabi umat Islam bisa meneladani kebaikan-kebaikan dari kelahiran sang pemimpin umat beragama yang sekaligus untuk seluruh zaman. Sebagian besar orang Islam memang memahami maulid nabi dengan hari yang sangat agung, karena jika peristiwa itu tiada maka al uswah hasanah yang dijadikan panutan dalam setiap kebaikan juga tiada.
Perayaan maulid nabi sebagaimana kita ketahui belum ada yang bisa dengan benar dan nyata membuktikan kapan perayaan maulid nabi pertama kali dilakukan karena tidak adanya bukti yang membenarkannya. Namun, kita masih bisa melihat dari beberapa pendapat untuk sekadar menambah pengetahuan ilmu atau mendapatkan arahan dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita tentang asal mula dirayakannya maulid Nabi. Sebagai contoh pendapat yang dikemukakan Al-Maqrizy (seorang ahli sejarah Islam) dalam bukunya “Al-Khutath” menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah oleh Dinasti Fathimiyyun di Mesir.
Selama ini banyak terjadi kontroversi tentang setuju dan tidaknya adanya perayaan maulid nabi, hal ini terjadi dimana-mana tidak terkecuali oleh umat Islam itu sendiri. Para umat Islam yang tidak menyetujui adanya maulid nabi menyatakan bahwa maulid tersebut hanya dilakukan dengan beberapa ritual dan acara yang tidak menambah keteladanan kepada Nabi Muhammad. Maka dari itu mereka tidak menyetujuinya, bahkan apabila ada yang mengindahkan ritual tersebut maka mereka nyatakan sebagai bid’ah karena tidak terjadi di zaman Nabi.
Berbeda dengan umat Islam yang telah memahami perayaan maulid sebagai bentuk kecintaannya kepada Nabi. Hal ini mereka percayai sebagai bentuk perayaan yang bisa menambah kecintaan, keteladanan dan pelajaran tentang Islam yang lebih luas dan mendalam. Tidak jarang pada perayaan maulid diadakan pengajian-pengajian atau seminar tentang ilmu-ilmu keislaman, ini menunjukkan bahwa kelahiran Nabi membuat dunia menjadi terang dan bahagia.
Perayaan maulid Nabi diselenggarakan dengan beragam corak. Terdapat perbedaan tradisi antara satu daerah dengan daerah lain, dan terus berkembang dari masa ke masa sesuai dengan situasi dan kondisi serta budaya kaum muslim di wilayah masing-masing. Di Indonesia peringatan maulid Nabi juga diselenggarakan dengan meriah dan dipandang sebagai salah satu hari besar Islam yang terbesar setelah Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan tersebut diadakan sebulan penuh, yaitu pada Rabiulawal, bahkan sering kali pula lebih dari sebulan sehingga masih dirayakan pada Rabiulakhir.
Beberapa daerah dan corak perayaan di Indonesia yaitu di Lombok, Nusa Tenggara Barat, terutama oleh para anggota Nahdlatul Wathan, maulid nabi dirayakan dengan sangat meriah dan penuh dengan suasana spiritual. Di Keraton Yogyakarta acara peringatan ini dikenal dengan Sekaten (asalnya: syahadatain), yang diselenggarakan dalam waktu yang cukup panjang dan sangat kuat dipengaruhi budaya lokal. Cara ini tentu berbeda dengan yang dilaksanakan di masjid pada zaman lampau, yakni dengan membaca syair Arab yang bernama Maulid Syaraf al-Anam, Konon.
Adapun di pesantren tradisional, perayaan maulid Nabi dilaksanakan dengan acara membaca al-Barzanji (kitab berbahasa Arab yang berisi syair pujian kepada Nabi Muhammad Saw), tahlil, dan doa bersama. Ada juga peringatan yang diadakan pada tingkat desa, seperti yang diselenggarakan di sebagian daerah terpencil di Sumatra Utara dan beberapa daerah lain.
Demikian pentingnya arti maulid nabi bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan mereka menyebut bulan Rabiulawal dengan bulan Mulud (Jawa) dan Mo'lot (Aceh), dan menyebut Rabiulakhir/Rabiul Tsani dengan Bakda Mulud (Jawa: setelah Mulud) dan (Aceh: adik Mo'lot).
Beraneka warna dan cara masyarakat muslim dalam menunjukkan apresiasi kecintaannya kepada Nabi Muhammad dalam bentuk maulid nabi. Namun, perayaan ini sering kering makna karena sekadar ritual keagamaan. Momen ini akan lebih bermakna apabila disertai dengan hal-hal positif, serta mengikuti sikap dan sifat tauladan Nabi Muhammad saw.
Nilai-nilai apik pada diri Nabi memang seharusnya dapat diaktualisasikan umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sehingga tidak terjebak pada upacara ritualitas perayaan maulid Nabi semata. Orang lain butuh akan contoh dari diri kita dan kita pun butuh contoh dari orang lain. Oleh karenanya kita harus senantiasa meneladani setiap tauladan dari Nabi.
Alhasil buah karya dari ustadz Ahmad Muthohar dengan judul Maulid Nabi; Menggapai Keteladanan Rasulullah saw ini mengupas tuntas tentang makna maulid nabi, kapan awal adanya perayaan maulid serta corak-corak dari peringatan maulid yang ada di dunia Islam pada umumnya dan di negara Indonesia pada khususnya. Dengan begitu maulid nabi akan lebih dimengerti oleh masyarakat umum dan umat Islam secara lebih mendalam.
Tiada sanjungan yang lebih pantas dibanding do’a untuk penulis yang masih memperdulikan budaya, keilmuan dan sejarah keislaman untuk memajukan dan mencerdaskan penerus bangsa dan agama lewat jendela cakrawala yang kini kian tergeser oleh kemajuan teknologi. Namun penulis masih tetap gigih untuk memperjuangkannya. Semoga terus berkarya dan berhasil dalam setiap cita yang disampaikan.

0 comments:

My Blog List

Powered by Blogger.

Tags

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India