Penulis : Ahmad
Muthohar
Penerbit : Pustaka Pesantren, LKiS-Yogyakarta
Tebal : x +
120 halaman
Cetakan :
I, Februari 2011
Peresensi : Naila Kurniasih
Sebagai umat Islam tentunya begitu dekat dengan istilah maulid
Nabi, karena hal ini merupakan satu dari sekian banyak peristiwa penting dalam
sejarah umat Islam. Dengan adanya maulid nabi umat Islam bisa
meneladani kebaikan-kebaikan dari kelahiran sang pemimpin umat beragama yang sekaligus
untuk seluruh zaman. Sebagian besar orang Islam memang memahami maulid nabi dengan
hari yang sangat agung, karena jika peristiwa itu tiada maka al uswah
hasanah yang dijadikan panutan dalam setiap kebaikan juga tiada.
Perayaan
maulid nabi sebagaimana kita ketahui belum ada yang bisa dengan
benar dan nyata membuktikan kapan perayaan maulid nabi pertama
kali dilakukan karena tidak adanya bukti yang membenarkannya. Namun, kita
masih bisa melihat dari beberapa pendapat untuk sekadar menambah pengetahuan
ilmu atau mendapatkan arahan dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kita
tentang asal mula dirayakannya maulid Nabi. Sebagai contoh pendapat yang
dikemukakan Al-Maqrizy (seorang ahli sejarah Islam) dalam bukunya “Al-Khutath”
menjelaskan bahwa maulid Nabi mulai diperingati pada abad IV Hijriyah
oleh Dinasti Fathimiyyun di Mesir.
Selama
ini banyak terjadi kontroversi tentang setuju dan tidaknya adanya
perayaan maulid nabi, hal ini terjadi dimana-mana tidak
terkecuali oleh umat Islam itu sendiri. Para umat Islam yang tidak menyetujui
adanya maulid nabi menyatakan bahwa maulid tersebut hanya
dilakukan dengan beberapa ritual dan acara yang tidak menambah keteladanan
kepada Nabi Muhammad. Maka dari itu mereka tidak menyetujuinya, bahkan apabila
ada yang mengindahkan ritual tersebut maka mereka nyatakan sebagai bid’ah
karena tidak terjadi di zaman Nabi.
Berbeda dengan umat Islam yang telah memahami perayaan maulid
sebagai bentuk kecintaannya kepada Nabi. Hal ini mereka percayai sebagai bentuk
perayaan yang bisa menambah kecintaan, keteladanan dan pelajaran tentang
Islam yang lebih luas dan mendalam. Tidak jarang pada perayaan maulid diadakan
pengajian-pengajian atau seminar tentang ilmu-ilmu keislaman, ini menunjukkan bahwa
kelahiran Nabi membuat dunia menjadi terang dan bahagia.
Perayaan maulid Nabi diselenggarakan dengan
beragam corak. Terdapat perbedaan tradisi antara satu daerah dengan daerah lain, dan terus berkembang dari masa ke masa sesuai dengan situasi
dan kondisi serta budaya kaum muslim di wilayah masing-masing. Di Indonesia
peringatan maulid Nabi juga diselenggarakan dengan meriah dan dipandang
sebagai salah satu hari besar Islam yang terbesar setelah Idul Fitri dan Idul
Adha. Perayaan
tersebut diadakan sebulan penuh, yaitu pada Rabiulawal, bahkan
sering kali pula lebih dari sebulan sehingga masih dirayakan pada Rabiulakhir.
Beberapa daerah dan corak perayaan di Indonesia yaitu di
Lombok, Nusa Tenggara Barat, terutama oleh para anggota Nahdlatul Wathan, maulid
nabi dirayakan dengan sangat meriah dan penuh dengan suasana spiritual. Di
Keraton Yogyakarta acara peringatan ini dikenal dengan Sekaten (asalnya: syahadatain),
yang diselenggarakan dalam waktu yang cukup panjang dan sangat kuat dipengaruhi
budaya lokal. Cara ini tentu berbeda dengan yang dilaksanakan di masjid pada
zaman lampau, yakni dengan membaca syair Arab yang bernama Maulid Syaraf
al-Anam, Konon.
Adapun di pesantren tradisional, perayaan maulid Nabi
dilaksanakan dengan acara membaca al-Barzanji (kitab berbahasa Arab yang berisi
syair pujian kepada Nabi Muhammad Saw), tahlil, dan doa bersama. Ada juga
peringatan yang diadakan pada tingkat desa, seperti yang diselenggarakan di
sebagian daerah terpencil di Sumatra Utara dan beberapa daerah lain.
Demikian pentingnya arti maulid nabi bagi
masyarakat muslim Indonesia, bahkan mereka menyebut bulan Rabiulawal dengan
bulan Mulud (Jawa) dan Mo'lot (Aceh), dan menyebut Rabiulakhir/Rabiul Tsani
dengan Bakda Mulud (Jawa: setelah Mulud) dan (Aceh: adik Mo'lot).
Beraneka warna dan cara masyarakat muslim dalam
menunjukkan apresiasi kecintaannya kepada Nabi Muhammad dalam bentuk maulid
nabi. Namun, perayaan ini
sering kering makna karena sekadar ritual keagamaan. Momen ini akan lebih
bermakna apabila disertai dengan hal-hal positif, serta mengikuti sikap dan
sifat tauladan Nabi Muhammad saw.
Nilai-nilai apik pada diri Nabi memang seharusnya
dapat diaktualisasikan umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara, sehingga tidak terjebak pada upacara ritualitas perayaan maulid
Nabi semata. Orang lain butuh akan contoh dari diri kita dan kita
pun butuh contoh dari orang lain. Oleh
karenanya kita harus senantiasa meneladani setiap tauladan dari Nabi.
Alhasil buah karya dari ustadz Ahmad Muthohar dengan
judul Maulid Nabi; Menggapai Keteladanan Rasulullah saw ini
mengupas tuntas tentang makna maulid nabi, kapan awal adanya perayaan
maulid serta corak-corak dari peringatan maulid yang ada di dunia Islam pada
umumnya dan di negara Indonesia pada khususnya. Dengan begitu maulid nabi akan
lebih dimengerti oleh masyarakat umum dan umat Islam secara lebih mendalam.
Tiada sanjungan yang lebih pantas dibanding do’a untuk
penulis yang masih memperdulikan budaya, keilmuan dan sejarah keislaman untuk
memajukan dan mencerdaskan penerus bangsa dan agama lewat jendela cakrawala
yang kini kian tergeser oleh kemajuan teknologi. Namun penulis masih tetap
gigih untuk memperjuangkannya. Semoga terus berkarya dan berhasil dalam setiap
cita yang disampaikan.


8:43 PM
Friendly Girl

Posted in:
0 comments:
Post a Comment