Aku baru
saja selesai makan siang dengan sahabat-sahabatku di sekolah, Manda dan Robin.
Kami akan makan siang bersama lagi setidaknya satu tahun dari sekarang, karena
mulai besok aku akan meninggalkan negeri ini untuk belajar ke luar negeri.
Ya, beberapa bulan lalu kita mengusahakan beasiswa ke London. Sungguh
keberuntungan bagiku, setelah belajar dengan keras sampai-sampai adik laki-laki
dan perempuanku memanggilku penguasa mayat hidup, akhhirnya aku telah
menerimanya. Aku tidak bisa membicarakan tentang sahabat-sahabatku.
“Aku akan sangat merindukanmu, ka,” Manda
berkata, Dengan memelukku. Ini perpisahan kami karena dia tidak bisa menemaniku
ke bandara besok pagi. Untuk beberapa bulan ini, Manda dan Robin pergi ke
universitas yang sama tapi mengambil jurusan yang berbeda, dan minggu ini
mereka akan menghadapi ujian tengah semester mereka. “jaga diri baik-baik di
london”, dia meneruskan perkataannya dan menghapus matanya dengan sehelai tisu.
Setelah Manda pergi dengan bus kecil, aku
dan Robin berjalan menuju ke sebuah rumah makan dimana kami makan siang
yang tempatnya dekat dengan rumah kita. 10 menit telah berlalu dan tidak
ada sepatah katapun dalam perbincangan kita. Keheningan yang luar biasa, datang
dari Robin.
“apakah
angin menelan suaramu?” Aku bertanya padanya dengan malas.
“apa?”
dia mengerutkan dahi.
“ini
tidak sepertimu. Kamu terlalu diam hari ini. Jangan bilang kamu pun ingin
menangis.,” aku menggodanya, tersenyum.
“tidak,
aku tidak ingin menangis, bagaimanapun sedihnya aku.”
Aku
meraba-raba sakuku untuk mengambil handphoneku. Handphoneku tidak ada. “oh,
ayolah.” Aku mengecek tasku, tetapi handphoneku tidak ada juga.
Robin,
yang telah berjalan dan berada didepanku, berhenti dan memutar balik. Dia telah
melihat kepanikan di wajahku, karena dia bertanya, “ada apa?”.
aku
bilang. “handphoneku. Aku tidak bisa menemukan handphoneku dimana-mana,” .
“wah,
kamu jangan sembarangan,” dia mendekatiku dan berkata, “sudahkah kamu mengecek
di sakumu, tasmu, semuanya, secara hati-hati?”
Aku
mengangguk.
Dia
mengecek di dalam tasku, karena tidak percaya. Dia bilang, “benar tidak disini.” Kita berdua
terdiam sekarang. “ah, jika aku tidak salah, sebelum kita makan siang Manda meminjam
handphonemu untuk menelphone ibunya. Sudahkah kamu memintanya untuk
mengembalikannya, sudahkah?
“sudahkah
aku?” aku mengulangi, tak percaya.
Dia
menggelengkan kepalanya dan mulai memutar nomor telepon pada handphonenya.
“Yah,
handphonenya ada padanya,” dia berkata setelah berbicara dengan Manda. “Kamu bisa
pulang sekarang. Aku akan kerumahnya dan mengembalikan handphonemu besok.”
***
Setelah
orang tuaku berbicara denganku untuk memberiku beberapa nasehat tentang kepergianku
ke luar negeri, semuanya pergi tidur. Dua jam telah berlalu. Aku telah mencoba
meutup mataku tetapi keduanya tetap saja terbuka. Aku mengecek handphoneku, ternyata
menunjukkan jam 12.10 dini hari.
Aku
duduk di atas tempat tidur dan melihat ke adik perempuanku, yang telah tertidur. Aku tersenyum, menyadari
bagaimana aku akan sangat merindukannya. Aku akan merindukan saat-saat aku
membantu mengerjakan PRnya, saat dia membicarakan teman lelakinya dan laki-laki
yang dia sukai. Kita bukan hanya sekedar adik kakak namun juga seorang sahabat.
Aku
ingin bangun pagi-pagi di pagi hari. Tapi malah mencoba lagi untuk jatuh
dan tidur, aku berjalan keluar dari kamar tidur, dengan membawa handphone
bersamaku.
Aku
pergi ke ruang tamu dan duduk di kursi. Aku melihat dengan sungguh-sungguh pada
setiap sudut ruangan. Rumah Ini sederhana dengan orang-orang yang tinggal di
dalamnya lebih dari dua puluh tahun, akan sangat aku rindukan sesegera ketika aku
mendarat di negeri lain.
Meskipun
rumah ini kecil, namun penuh kehangatan cinta dan perhatian dari orang tuaku.
Dirumah ini aku mempelajari tentang kesempurnaan dibelakang kesederhanaan, ini
berarti kaya bukanlah berapa banyak jumlah uang yang kamu miliki. Di rumah ini aku telah membangun
mimpi-mimpiku dan memotivasi untuk mencapai mimpi-mimpiku suatu saat.
Aku
masih kelihatan kekanak-kanakan ketika handphoneku berbunyi. Itu pesan teks
dari Robin.
Aku
di depan rumahmu. Tolong keluar jika kamu belum tidur. Aku akan menunggu 15
menit. Jika kamu tidak datang, aku akan menganggap kamu sudah tidur.
Setelah
aku selesai membaca pesannya, aku pergi keluar rumah.
“hei,
apa yang kamu lakukan disini pada jam segini?” aku menyambutnya.
Dia
tersenyum. Sebuah senyuman yang selalu membuat hatiku berdenyut lebih cepat
belakangan ini. Dia duduk di atas bangku, dibawah pohon di depan rumahku. Aku
berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya.
“Maaf
jika aku telah mengganggumu. Aku hanya ingin…aku ingin…er, aku akan menyampaikan
sesuatu sebelum kamu pergi. Aku telah memikirkannya berkali-kali. Er…aku tidak
akan memaksamu untuk menjawab atau melakukan sesuatu. Sebagian besar orang
tidak menyesali apa yang telah mereka lakukan, tetapi apa yang tidak mereka lakukan.
Aku hanya tidak ingin menjadi satu dari mereka. Aku juga telah…”
“Tunggu,”
aku menyela sebelum dia meneruskan pembicaraannya, “sebenarnya apa yang ingin
kamu bicarakan kepadaku, terus ini sudah terlalu malam?”
Dia
tertawa. “kamu selalu saja seperti itu. Langsung pada intinya.”
“Yah,
khasku sepeti itu,” aku menjawab, dan tersenyum.
“
Baiklah,” dia terbatuk sedikit, kemudian melanjutkan, “aku hanya ingin kamu
tahu.” Dia membalak ke dalam mataku, dan aku membalak kepadanya. “Aku jatuh
cinta padamu.”
Aku
masih terbelalak padanya. “baiklah, jika kamu berfikir ini lucu, tapi ini
tidak, untuk semua,” aku berkata sangat serius.
“aku
mengira demikian juga, karena aku tidak bercanda.” Untuk beberapa waktu kami
terdiam.
“kamu
serius, kemudian,” aku berbicara, memecahkan keheningan.
“Seratus
persen.”
“Benarkah.
Tapi kenapa? Maksudku kenapa kamu… jatuh cinta padaku?”
“Haruskah
ada alasan untuk mencintai seseorang?” dia menjawab ketus.
“baiklah,
sebagian besar orang melakukannya.”
Dia
menggaruk kepalanya. “terus terang, aku tidak tahu sebenarnya kenapa. Tapi jika
kamu memaksaku untuk memberikan jawaban, mungkin jawabannya adalah:
kesembronoanmu, senyumanmu, keseriusanmu, dan semua tentang kamu.”
Aku
tersenyum dan bertanya, “apakah kamu telah memberitahuku semua yang ingin aku
ketahui?”
“aku
tahu, tapi aku masih menunggu apakah kamu memiliki perasaan yang sama
atau…tidak?”
“haruskah
aku menjawabnya?”
“aku
meminta padamu, tolonglah…”
“baiklah,
aku benar-benar tidak tahu sekarang. Kamu menyenangkan dan pasti aku sangat menyukaimu,
tapi aku belum yakin apakah aku menyukaimu sebagai teman atau sebagai pacar.
Aku benar-benar minta maaf.”
“kamu
tidak perlu meminta maaf.” Dia tersenyum.
“Ok,
ini sudah terlambat sekarang. Kamu harus bangun pagi-pagi, benarkan?”
Aku
mengangguk. ”terima kasih, Bin.” Aku memberinya senyuman terbaikku.
“Yaka,”
dia memanggilku sebelum aku menutup pintunya. “ini akan menjadi kebahagiaanku
jika kamu mempercayakanku sewaktu-waktu kamu membutuhkanku untuk berbagi
sesuatu bersama. Hati-hati, jagalah kesehatan dan jangan pernah merasa sendiri,
ok?!”
Aku
tertawa. “Pasti”.
“Selamat
tinggal, Yaka. Aku akan merindukanmu.”
“Sampai
jumpa lagi, Bin. Terima kasih untuk malam yang indah ini.”
Kita
saling tersenyum.
Terjemahan dari Short Story di dalam Majalah Story dengan Judul Sweet Farewell


3:29 PM
Friendly Girl
Posted in:
0 comments:
Post a Comment